Jumat, 16 Mei 2008

puisi bulan mei

malam malam sriwedari 28 mei 2005

pada sebuah pacaran


tempat bernapas para tua yang diam
rumah ini menyediakan orang tua pada kita
sambil memeluk dada nikmati udara malam
kita masuki sebuah pintu dimana tangan kita
menjadi sangat mungil
seonggok panggung tempat bercumbu para nafas
dan gaduh segera dapat terkepal
merayu setiap hati yang mengenang
cerita kanak-kanak
malam yang gerah mengucur dikepala
tidak hanya kita! Para pedagang pun
tersenyum manis pada bulan
dijalan berguguran segala cemas
suara sorak terdengar merajuk gundah
kita gandengan dan berteriak ”ibu,ibu tunggu aku..”
semua dibuatnya seperti sedang kasmaran
rambutmu dua terkucir, dikakiku kuda-kudaan
berlarian
jangan dulu aku dibangunkan. Rasanya
badan sudah melekat pada udara gemuruh ini
sementara dilangit bintang menjadi mimpi
yang mengajak terlelap
dan mata ini bisa melumat habis setiap
sudut ruang tanpa harus menengok lagi
tapi tak ada ibu, hanya ada ayah yang telah
menjadi kanak—kanak
dada ini masih terbusung ikuti alunan irama
hidup
kita bermain bersama: terkekeh
mabuk, aahh… sejenak baju kebohongan
kutanggalkan…
tuhan, pinjamkan kami gaun pestaMu
kami ingin gembira
kancing kebencianpun sejenak kucopot
karena aku ingin bercinta pada mereka
bukankah tanah juga Kau ciptakan sambil
tersenyum
selayang pandang jiwa dalam jiwa
rebahkan mesin kepala
semoga malam ini kami dapat seperti pohon
jeruk, dengan duri dan vitamin C-Nya
tua, muda, muda semuanya menggoyangkan
kaki tanpa terkecuali
kami juga akan gugur dan semoga berguna

the excuisite corpse by sdp & gustina




a. sunyi
sunyi tak pecah walau dibanting dalam kepala yang menderu deru
hingga kunyalakan segera lampu merah dari persimpangan mata
seperti sebotol bir kau kutengak

b. darah
tik, darah mengucur deras dalam sore
terbayang dalam sayangKu padamu
…….
semoga kau tak merintih sperti kasur lipat
yang kubawa disetiap apel malam minggu




sejarah


sejarah bukanlah kalimat yang mesti dihapalkan segera
kamu tahu itu, semenjak kita ada rencana untuk
menjadi tua dan tak mau dikuburkan dalam mulut sendiri

tapi anak-anak terus saja dilelehkan matahari
bagai butiran telur mereka menunggu:
wahai panas yang memutih, tetaskan saja kami jadi bilahan bilahan sinar
akan Kupelupuh ingatanmu!

kamu tahu itu, seperti caramu meracik senja pada sepasang
mata yang selalu menyeret rinduku untuk bertamu

lihatlah,

betapa kata kata gemar menyepi dalam kamarnya yang rahasia
lalu setelah itu ternyata kita tidak berada dimana mana
(bukankah kita hanyalah pejalan kaki yang mabuk
didepan auman sejarah)

kamu tahu itu,
sejarah bukan sebuah kota kecil yang menjamin kita untuk tidak tersesat
dalam tubuh sendiri
sendiri









rumah

pada suatu hari sepasang sepatu terus menunggu, mengajakmu berlari, bertanya mengapa cahaya selalu meninggalkan bayangan ditanah
puisi ini tentang rumah, tentang perkara siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan

tapi dimanakah stasiun bisa kita tumbuhkan, apakah ditangan (tempat kita berkenalan) ataukah dimata (tempat kita saling tersesat)
?
puisi ini tentang rumah

pintu pagar itu tak pernah genap menghitung setiap kedatangan dan kepulangan tentang siapa yang menyuguhkan minum dimeja tamu
atau siapa pula yang siap bertamu tanpa pernah tahu dimana pintu belakang
dari sebuah senyum

ini tentang rumah
tempat kita terus tiba dan berpamitan
tapi rumah takan pernah gugur
dan terus saja subur disetiap persimpangan
ingatan







biografi kepulangan

aku dalam perjalanan pulang
menyusuri labirin ingatan
yang penuh bangkai waktu
ditanganku segenggam doa
siap dilempar kelangit

jadikanlah ia hujan
jadikanlah ia bulan
jadikanlah ia matahari
jadikanlah ia kepak kupu kupu

kau berjalan sendirian
dalam kesunyian yang menjelma pasar
dan pepohonan menjajakan beraneka hening
kau ambil sekeping lalu jiwamu melolong

“temani aku,
aku perempuan, aku hawa panas
yang jatuh dari ketinggian”
teriakmu
pinjami aku tulang rusukmu
agar hening ini makin sempurna menuju langit

tapi kita pernah berciuman
kusudahi pasungan waktu
yang belenggu dibibirmu
lantas kau tanggalkan baju
tanpa kata kata

sebab kata kata telah merdeka
dari ribuan kamus
yang telah memenggal mereka
untuk bicara
dalam kalimat yang utuh

cinta barangkali adalah
ketidaktahuan kita
karena cinta barangkali
adalah diam itu sendiri


maka jadikanlah ia hujan
jadikanlah ia bulan
jadikanlah ia matahari
jadikanlah ia kepak kupu kupu

kini aku dalam perjalanan pulang
hujan resah membakar tubuhku
besok, aku hanya debu dalam tarian waktu
besok kau adalah sebongkah batu
maka pecahkan rahasia langit itu

Minggu, 27 April 2008

puisi-puisi syam sdp

Dalam salon imajinasi, kata-kata berdandan menemui kesunyian dalam labirin waktu.... inilah sajak-sajal itu
syam sdp


ZODIAK

satu minggu ini rel belum tuntas
tanganmu tak sekedar berucap pada stasiun
didepan ada senin-selasa-rabu-mungkin minggu!
hari libur akan baik bila malaikat segera datang
bawa pesanan. usai makan cepatlah berangkat
seseorang sudah menunggu tibamu
ditangannya bunga. amor.sekali-kali cari waktu
ketoko untuk membeli kitab suci
baca dipagi hari dan silahkan
menangis: nabi telah mati, orang-orang tertidur digua
uangnya tak terpakai, mereka lapar
bila panik, berarti kau serdadu
senjata yang sia-sia dalam sejarah tak pantas untuk kesehatan
lebih baik ambil sepatu
ajak tetanggamu jogging




(KETIKA SYAMSUL DISELAMATKAN PACAR)

dulu, dikampung, seingatku
alangkah gemarnya aku menulis
sajak-sajak cinta
karena kata bapak
tanah kampung ini belum banyak ditimbuni abjad atau angka-angka
almarhum kakek juga pernah bercerita
kalau tanah kampungku masih menyimpan 100.000 cangkul dan caping dalam dagingnya
selalu kutulis puisi dengan bahasa sederhana
tentang senyum ibu didepan tungku kalau malam merayap
atau tentang pohon bambu muka rumah
yang selalu diajak angin untuk menari
tapi hari ini
sang angin malah mengirimkan aku seorang pacar
untuk mengingatkan kalau ulang tahunku
sudah dekat
astaga ………… dunia ini semakin pikun
ketika tak lagi mampu kuingat apa warna air sungai yang mengalirkan usiaku
atau mengapa sisa-sisa dari 100.000 cangkul dan caping hanya hanyut
terdampar dalam stand-stand pameran pembangunan?
(tempat orang berkunjung untuk menulis nama,alamat dan parafnya pada buku tamu?)
kenangan
ketika kampungku mulai punya mimpi
mengganti bulan dengan neon atau merkuri
sekejap malam menjadi sebuah restoran mewah dan toko-toko besar
aku ada disitu
mentraktir pacarku
membelikan dia apa saja
aku rayakan ulang tahun ini dengan kepala tertusuk ingatan lampau
lalu selesai makan,tiba-tiba pacarku berbisik: “ yank,besok kita kesini lagi ya..? “
rumahayat april 2004


BUNGA MAWAR BUAT IRA

hujan itu kekasihku, bagai segerombol pasukan perang
dengan pistol air mengepung kita demi balas dendam
kau masih ingat kisah pohon yang terlarang untuk ditebang?
pohon itu kekasihku, telah mengirimkan lukanya jadi air mata langit
kini ia menangis dipipi bumi yang sangsi
kau tak percaya jika dipelangi ada bidadari mandi?
bidadari itu kekasihku,
tak bisa terbang pulang kekayangan karena selendangnya
dicuri seekor kupu kupu jantan, bukankah kemarin kau juga
mengaku kehilangan bunga mawar?
mawar itu kekasihku,
aku yang memetiknya diam diam
habis aku nggak mau repot repot jika nanti
kau birahi dan ngotot
minta aku melukaimu dengan duri keramatNya


PERTAMA

pertama kali lahir, aku menangis sekeras-kerasnya
karena kehilangan kesenyapan
belum bisa kulihat senyum siapapun
pertama kali melihat, aku menirukan senyum ibuku
sebab aku belum paham pada apa yang terdengar
pertama kali mendengar, ramai itu aneh bagiku
kenapa dunia tidak berhenti saja bicara
pertama kali bicara, aku segera tahu apa arti sunyi
diam diam ia kunyanyikan disudut malam
pertama kali bernyanyi, tiba tiba aku bertemu nada
diatas sebuah irama lalu kami berdansa sya la la
pertama kali berdansa, aku mengenal wanita
pantat dan buah dada katanya dosa
pertama kali berdosa, aku terjatuh dari sesuatu
aku baru tahu namanya gravitasi
pertama kali gravitasi, aku tak berani menatap wajahmu
jiwaku tumbang oleh cinta
pertama kali bercinta, seluruh tubuhku menangis
bagai hujan gerimis, jatuh dikelopak bunga
pertama kali menyentuh bunga, aku sadar
di dunia ada rahasia tentang keindahan
pertama kali menyimpan rahasia
aku tak tahu dimana ia akan kusembunyikan
pertama kali sembunyi, aku ketakutan
sebab
pertama kali takut, aku begitu ketakutan
jika kehilangan keberanian


SETELAH

setelah kuceritakan kisahku pada kata-kata
kata-kata berkata :
“ baiklah, ini rahasia kita”
lalu dia pergi, membawa sebagian kisahku
“saat ingin bicara, segera aku menemuimu” ujarnya
sejak saat itu, aku diam seribu bahasa
sampai kutulis puisi ini
kabarnya, kata-kata telah jadi pengkhianat;
dia ceritakan sebagian kisahku itu pada sang sunyi


CATATAN WAKTU 26

padanya lelaki itu mengaku bernama adam
yang pernah jatuh dari langit
merasai perihnya sepi
dengan penuh gulana ia bertanya kemana
harus mencari hawa yang membawa rusuk kirinya
sebelum fajar tiba ia harus menemukannya
sebelum kutukan khuldi itu semakin abadi.
di depan perempuan itu adam berdusta,
seperti kisah sandiwara picisan
dan hawa, si perempuan itu, pura-pura percaya sebab mengerti
adam, kekasihnya itu bukanlah sang sepi yang terus menerus menyesali sebuah peristiwa kejatuhan
”ah, mungkin ia hanya rindu mengisap puting susuku, agar senantiasa menjadi bayi, yang dapat meresapi cinta tanpa rasa dosa, apalagi grogi ” desisnya dengan mata menggoda


WAKTU

waktu adalah meja judi
tempat orang mabuk
dalam pertaruhan
kalah dan menang
terus berlalu
waktu adalah gitar tua
dawainya dicabik
merobek daging malam
darah hitam
dibawah cahaya bulan
waktu adalah ranjang empuk
seseorang tertidur dan lupa berdoa
mimpi mimpi memeluh
adalah gugus pulau tak bernama
seseorang terasing disana


EPILOG

pulanglah, gorontalo semakin mematung dimatamu
tak ada air mata
sebab mata air danau limboto
telah jadi langit sore
tempat ikan payangga dan hulu’u
menyembunyikan rindunya pada rembulan
sebelum pasrah di atas meja makan
pulanglah, kenyang akan kembali menjadi lapar
barangkali kita akan segera bertemu
semoga tak kelu


SIAPA?
syam sdp dilahirkan di gorontalo, 3 juni 1982. Alumnus Perbandingan Agama di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Belajar kesenian dan sastra di teater ayat FAI-UMS, dan jamaah fundamentalis sastra Surakarta. Puisi dan essaynya termuat di harian Suara Merdeka (Jateng),Batam News (Batam), Gorontalo Post, Jurnal Cisadane (DKT Tanggerang), Jurnal Zukhuf (UMS-Solo), Buletin Sastra Pawon (Solo), Antologi Puisi Nusantara: 142 Penyair menuju Bulan (Banjar Baru),dan Horison (Jakarta). Kini bergiat di teater halaman Gorontalo, dan bekerja sebagai wartawan .
Alamat: Jln. Sawah Besar (depan MAN Muhammadiyah Kabila) Kelurahan Oluhuta, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo 96183

Minggu, 07 Oktober 2007

hallo bung mudah-mudahan dengan blog ini, kita terus berkawan. ini sebagai hadiah perkawinan. ok! salam hangat dari kawan mu Ali Shadlle (Muhammad Sadli)