malam malam sriwedari 28 mei 2005
pada sebuah pacaran
tempat bernapas para tua yang diam
rumah ini menyediakan orang tua pada kita
sambil memeluk dada nikmati udara malam
kita masuki sebuah pintu dimana tangan kita
menjadi sangat mungil
seonggok panggung tempat bercumbu para nafas
dan gaduh segera dapat terkepal
merayu setiap hati yang mengenang
cerita kanak-kanak
malam yang gerah mengucur dikepala
tidak hanya kita! Para pedagang pun
tersenyum manis pada bulan
dijalan berguguran segala cemas
suara sorak terdengar merajuk gundah
kita gandengan dan berteriak ”ibu,ibu tunggu aku..”
semua dibuatnya seperti sedang kasmaran
rambutmu dua terkucir, dikakiku kuda-kudaan
berlarian
jangan dulu aku dibangunkan. Rasanya
badan sudah melekat pada udara gemuruh ini
sementara dilangit bintang menjadi mimpi
yang mengajak terlelap
dan mata ini bisa melumat habis setiap
sudut ruang tanpa harus menengok lagi
tapi tak ada ibu, hanya ada ayah yang telah
menjadi kanak—kanak
dada ini masih terbusung ikuti alunan irama
hidup
kita bermain bersama: terkekeh
mabuk, aahh… sejenak baju kebohongan
kutanggalkan…
tuhan, pinjamkan kami gaun pestaMu
kami ingin gembira
kancing kebencianpun sejenak kucopot
karena aku ingin bercinta pada mereka
bukankah tanah juga Kau ciptakan sambil
tersenyum
selayang pandang jiwa dalam jiwa
rebahkan mesin kepala
semoga malam ini kami dapat seperti pohon
jeruk, dengan duri dan vitamin C-Nya
tua, muda, muda semuanya menggoyangkan
kaki tanpa terkecuali
kami juga akan gugur dan semoga berguna
the excuisite corpse by sdp & gustina
a. sunyi
sunyi tak pecah walau dibanting dalam kepala yang menderu deru
hingga kunyalakan segera lampu merah dari persimpangan mata
seperti sebotol bir kau kutengak
b. darah
tik, darah mengucur deras dalam sore
terbayang dalam sayangKu padamu
…….
semoga kau tak merintih sperti kasur lipat
yang kubawa disetiap apel malam minggu
sejarah
sejarah bukanlah kalimat yang mesti dihapalkan segera
kamu tahu itu, semenjak kita ada rencana untuk
menjadi tua dan tak mau dikuburkan dalam mulut sendiri
tapi anak-anak terus saja dilelehkan matahari
bagai butiran telur mereka menunggu:
wahai panas yang memutih, tetaskan saja kami jadi bilahan bilahan sinar
akan Kupelupuh ingatanmu!
kamu tahu itu, seperti caramu meracik senja pada sepasang
mata yang selalu menyeret rinduku untuk bertamu
lihatlah,
betapa kata kata gemar menyepi dalam kamarnya yang rahasia
lalu setelah itu ternyata kita tidak berada dimana mana
(bukankah kita hanyalah pejalan kaki yang mabuk
didepan auman sejarah)
kamu tahu itu,
sejarah bukan sebuah kota kecil yang menjamin kita untuk tidak tersesat
dalam tubuh sendiri
sendiri
rumah
pada suatu hari sepasang sepatu terus menunggu, mengajakmu berlari, bertanya mengapa cahaya selalu meninggalkan bayangan ditanah
puisi ini tentang rumah, tentang perkara siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan
tapi dimanakah stasiun bisa kita tumbuhkan, apakah ditangan (tempat kita berkenalan) ataukah dimata (tempat kita saling tersesat)
?
puisi ini tentang rumah
pintu pagar itu tak pernah genap menghitung setiap kedatangan dan kepulangan tentang siapa yang menyuguhkan minum dimeja tamu
atau siapa pula yang siap bertamu tanpa pernah tahu dimana pintu belakang
dari sebuah senyum
ini tentang rumah
tempat kita terus tiba dan berpamitan
tapi rumah takan pernah gugur
dan terus saja subur disetiap persimpangan
ingatan
biografi kepulangan
aku dalam perjalanan pulang
menyusuri labirin ingatan
yang penuh bangkai waktu
ditanganku segenggam doa
siap dilempar kelangit
jadikanlah ia hujan
jadikanlah ia bulan
jadikanlah ia matahari
jadikanlah ia kepak kupu kupu
kau berjalan sendirian
dalam kesunyian yang menjelma pasar
dan pepohonan menjajakan beraneka hening
kau ambil sekeping lalu jiwamu melolong
“temani aku,
aku perempuan, aku hawa panas
yang jatuh dari ketinggian”
teriakmu
pinjami aku tulang rusukmu
agar hening ini makin sempurna menuju langit
tapi kita pernah berciuman
kusudahi pasungan waktu
yang belenggu dibibirmu
lantas kau tanggalkan baju
tanpa kata kata
sebab kata kata telah merdeka
dari ribuan kamus
yang telah memenggal mereka
untuk bicara
dalam kalimat yang utuh
cinta barangkali adalah
ketidaktahuan kita
karena cinta barangkali
adalah diam itu sendiri
maka jadikanlah ia hujan
jadikanlah ia bulan
jadikanlah ia matahari
jadikanlah ia kepak kupu kupu
kini aku dalam perjalanan pulang
hujan resah membakar tubuhku
besok, aku hanya debu dalam tarian waktu
besok kau adalah sebongkah batu
maka pecahkan rahasia langit itu
Jumat, 16 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar