Minggu, 27 April 2008

puisi-puisi syam sdp

Dalam salon imajinasi, kata-kata berdandan menemui kesunyian dalam labirin waktu.... inilah sajak-sajal itu
syam sdp


ZODIAK

satu minggu ini rel belum tuntas
tanganmu tak sekedar berucap pada stasiun
didepan ada senin-selasa-rabu-mungkin minggu!
hari libur akan baik bila malaikat segera datang
bawa pesanan. usai makan cepatlah berangkat
seseorang sudah menunggu tibamu
ditangannya bunga. amor.sekali-kali cari waktu
ketoko untuk membeli kitab suci
baca dipagi hari dan silahkan
menangis: nabi telah mati, orang-orang tertidur digua
uangnya tak terpakai, mereka lapar
bila panik, berarti kau serdadu
senjata yang sia-sia dalam sejarah tak pantas untuk kesehatan
lebih baik ambil sepatu
ajak tetanggamu jogging




(KETIKA SYAMSUL DISELAMATKAN PACAR)

dulu, dikampung, seingatku
alangkah gemarnya aku menulis
sajak-sajak cinta
karena kata bapak
tanah kampung ini belum banyak ditimbuni abjad atau angka-angka
almarhum kakek juga pernah bercerita
kalau tanah kampungku masih menyimpan 100.000 cangkul dan caping dalam dagingnya
selalu kutulis puisi dengan bahasa sederhana
tentang senyum ibu didepan tungku kalau malam merayap
atau tentang pohon bambu muka rumah
yang selalu diajak angin untuk menari
tapi hari ini
sang angin malah mengirimkan aku seorang pacar
untuk mengingatkan kalau ulang tahunku
sudah dekat
astaga ………… dunia ini semakin pikun
ketika tak lagi mampu kuingat apa warna air sungai yang mengalirkan usiaku
atau mengapa sisa-sisa dari 100.000 cangkul dan caping hanya hanyut
terdampar dalam stand-stand pameran pembangunan?
(tempat orang berkunjung untuk menulis nama,alamat dan parafnya pada buku tamu?)
kenangan
ketika kampungku mulai punya mimpi
mengganti bulan dengan neon atau merkuri
sekejap malam menjadi sebuah restoran mewah dan toko-toko besar
aku ada disitu
mentraktir pacarku
membelikan dia apa saja
aku rayakan ulang tahun ini dengan kepala tertusuk ingatan lampau
lalu selesai makan,tiba-tiba pacarku berbisik: “ yank,besok kita kesini lagi ya..? “
rumahayat april 2004


BUNGA MAWAR BUAT IRA

hujan itu kekasihku, bagai segerombol pasukan perang
dengan pistol air mengepung kita demi balas dendam
kau masih ingat kisah pohon yang terlarang untuk ditebang?
pohon itu kekasihku, telah mengirimkan lukanya jadi air mata langit
kini ia menangis dipipi bumi yang sangsi
kau tak percaya jika dipelangi ada bidadari mandi?
bidadari itu kekasihku,
tak bisa terbang pulang kekayangan karena selendangnya
dicuri seekor kupu kupu jantan, bukankah kemarin kau juga
mengaku kehilangan bunga mawar?
mawar itu kekasihku,
aku yang memetiknya diam diam
habis aku nggak mau repot repot jika nanti
kau birahi dan ngotot
minta aku melukaimu dengan duri keramatNya


PERTAMA

pertama kali lahir, aku menangis sekeras-kerasnya
karena kehilangan kesenyapan
belum bisa kulihat senyum siapapun
pertama kali melihat, aku menirukan senyum ibuku
sebab aku belum paham pada apa yang terdengar
pertama kali mendengar, ramai itu aneh bagiku
kenapa dunia tidak berhenti saja bicara
pertama kali bicara, aku segera tahu apa arti sunyi
diam diam ia kunyanyikan disudut malam
pertama kali bernyanyi, tiba tiba aku bertemu nada
diatas sebuah irama lalu kami berdansa sya la la
pertama kali berdansa, aku mengenal wanita
pantat dan buah dada katanya dosa
pertama kali berdosa, aku terjatuh dari sesuatu
aku baru tahu namanya gravitasi
pertama kali gravitasi, aku tak berani menatap wajahmu
jiwaku tumbang oleh cinta
pertama kali bercinta, seluruh tubuhku menangis
bagai hujan gerimis, jatuh dikelopak bunga
pertama kali menyentuh bunga, aku sadar
di dunia ada rahasia tentang keindahan
pertama kali menyimpan rahasia
aku tak tahu dimana ia akan kusembunyikan
pertama kali sembunyi, aku ketakutan
sebab
pertama kali takut, aku begitu ketakutan
jika kehilangan keberanian


SETELAH

setelah kuceritakan kisahku pada kata-kata
kata-kata berkata :
“ baiklah, ini rahasia kita”
lalu dia pergi, membawa sebagian kisahku
“saat ingin bicara, segera aku menemuimu” ujarnya
sejak saat itu, aku diam seribu bahasa
sampai kutulis puisi ini
kabarnya, kata-kata telah jadi pengkhianat;
dia ceritakan sebagian kisahku itu pada sang sunyi


CATATAN WAKTU 26

padanya lelaki itu mengaku bernama adam
yang pernah jatuh dari langit
merasai perihnya sepi
dengan penuh gulana ia bertanya kemana
harus mencari hawa yang membawa rusuk kirinya
sebelum fajar tiba ia harus menemukannya
sebelum kutukan khuldi itu semakin abadi.
di depan perempuan itu adam berdusta,
seperti kisah sandiwara picisan
dan hawa, si perempuan itu, pura-pura percaya sebab mengerti
adam, kekasihnya itu bukanlah sang sepi yang terus menerus menyesali sebuah peristiwa kejatuhan
”ah, mungkin ia hanya rindu mengisap puting susuku, agar senantiasa menjadi bayi, yang dapat meresapi cinta tanpa rasa dosa, apalagi grogi ” desisnya dengan mata menggoda


WAKTU

waktu adalah meja judi
tempat orang mabuk
dalam pertaruhan
kalah dan menang
terus berlalu
waktu adalah gitar tua
dawainya dicabik
merobek daging malam
darah hitam
dibawah cahaya bulan
waktu adalah ranjang empuk
seseorang tertidur dan lupa berdoa
mimpi mimpi memeluh
adalah gugus pulau tak bernama
seseorang terasing disana


EPILOG

pulanglah, gorontalo semakin mematung dimatamu
tak ada air mata
sebab mata air danau limboto
telah jadi langit sore
tempat ikan payangga dan hulu’u
menyembunyikan rindunya pada rembulan
sebelum pasrah di atas meja makan
pulanglah, kenyang akan kembali menjadi lapar
barangkali kita akan segera bertemu
semoga tak kelu


SIAPA?
syam sdp dilahirkan di gorontalo, 3 juni 1982. Alumnus Perbandingan Agama di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Belajar kesenian dan sastra di teater ayat FAI-UMS, dan jamaah fundamentalis sastra Surakarta. Puisi dan essaynya termuat di harian Suara Merdeka (Jateng),Batam News (Batam), Gorontalo Post, Jurnal Cisadane (DKT Tanggerang), Jurnal Zukhuf (UMS-Solo), Buletin Sastra Pawon (Solo), Antologi Puisi Nusantara: 142 Penyair menuju Bulan (Banjar Baru),dan Horison (Jakarta). Kini bergiat di teater halaman Gorontalo, dan bekerja sebagai wartawan .
Alamat: Jln. Sawah Besar (depan MAN Muhammadiyah Kabila) Kelurahan Oluhuta, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo 96183

Tidak ada komentar: